Penjual Cobek Dituntut 3 Tahun Penjara

tukang-cobek-dituntut-3-tahun

infoBaswara.com, Jakarta – Di awal 2016 (20/4/16), seorang Tukang cobek, bernama Tajudin, ditangkap polisi di Jalan Raya Perum Graha Raya Bintaro, Kota Tangerang Selatan. Tajudin dianggap telah mengeksploitasi anak-anak usia sekolah di Tangerang, yaitu memaksa CN (14) dan DD (13) menjualkan cobeknya, selama kurang lebih delapan bulan.

Setelah melalui persidangan awal beberapa bulan lalu, hari ini sidang Tajudin dilanjutkan di Pengadilan Negeri Kota Tangerang, Jalan Taman Makam Pahlawan Taruna, Kota Tangerang, Kamis (15/12/2016). Tukang cobek ini, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp 120 juta, karena dianggap mengeksploitasi anak.

“Menuntut terdakwa Tajudin bin Tantang Rusmana dengan pidana penjara tiga tahun dan denda sebesar Rp 120 juta dengan subsidair 1 bulan penjara,” ucap JPU, Fajar Said, membacakan surat tuntutan.

cobek
cobek (ilustrasi via munthu.com)

 

Menurut Fajar, perbuatan Tajudin telah memenuhi pasal tindak pidana perdagangan orang.

“Terdakwa telah terbukti secara sah telah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam dakwaan Pasal 2 ayat 1 UU No 1 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang jo pasal 64 ayat 1 sesuai dakwaan kami,” kata Fajar.

“Tajudin telah melakukan perekrutan, penampungan penerimaan seseorang dengan posisi rentan memberi bayaran atau manfaat. Walaupun memperoleh persetujuan dari yang memegang kendali atas orang lain dengan tujuan mengeksploitasi,” ucapnya.

Seperti sudah diberitakan media sebelumnya, kasus Tajudin terkuak ketika Polres Tangerang Selatan melihat CN (14) dan DD (13) setiap hari berjualan cobek di sekitar Perum BSD Serpong dan Perum Villa Melati Mas Kota Tangerang Selatan.

Pembela Tajudin sejak kasus ini bergulir adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Keadilan. Menurut Erlangga Swadiri, advokat publik dari LBH Keadilan, perbuatan Tajudin bukanlah eksploitasi ekonomi terhadap anak. Justeru, apa yang dilakukannya, meringankan kewajiban negara dalam memenuhi hak atas pekerjaan yang layak.

Beberapa bulan sebelumnya, keterangan para saksi sudah didengarkan, termasuk CN dan DD, juga orangtua DD, dan beberapa saksi lain.

“Saksi-Saksi tersebut menerangkan antara lain (pada pokoknya), bahwa korban sudah putus sekolah dan tidak ingin melanjutkan sekolah lagi,” ujar Erlangga, Selasa (25/10/16).

Menurut Erlangga, CN dan DD berjualan cobek atas kemauan sendiri, tanpa paksaan dari Tajudin. Orangtua korban pun mengijinkan anaknya berjualan, agar dapat membantu ekonomi keluarga. Bahkan, masih menurut Erlangga, CN dan DD-lah yang datang kepada Tajudin agar bisa bekerja dengan cara menjual cobek. Tajudin menyediakan cobeknya, CN dan DD kemudian membeli dengan harga lebih murah untuk dijual lagi. CN dan DD tidak pernah menyetor sesuatu kepada Tajudin, kecuali uang sejumlah 30 ribu untuk biaya bensin, karena Tajudin selalu mengantar-jemput keduanya. Tajudin pun tak pernah mengancam anak-anak itu. Bahkan, ia selalu mengingatkan mereka untuk sebaiknya melanjutkan sekolah lagi. [CT]

 

sumber: detik.com, republika.co.id

featured img: ktiv.com

 

 

https://www.satulangkah.com

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | Driven by Heart | 0881 0244 23948 (WA only) | "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (Calvyn Toar - Jan 2016).

Leave a Reply

*