Trump Akhiri Kebijakan Satu China?

trump-dan-china-menegang_

infoBaswara.com, BeijingPemerintah China bereaksi keras terhadap pernyataan presiden Amerika Serikat (AS) terpilih, Donald Trump, dalam sesi wawancaranya dengan Fox News, Minggu (11/12/16), terkait kebijakan Satu China (One China Policy), sebagaimana yang dilansir oleh bbc.com.

Dalam wawancara tersebut, Trump menegaskan, bahwa ia tidak melihat adanya alasan kuat untuk melanjutkan kebijakan Satu China, tanpa adanya konsesi lain yang lebih penting dari China, semisal Perdagangan dan isu lain. Dengan pernyataan ini, seolah mengindikasikan, Trump akan mengakhiri kebijakan Satu China yang telah ketat diberlakukan AS sejak tahun 1979.

Geng Shuang, Juru bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri China, mengatakan,” Kebijakan Satu China menjadi dasar utama hubungan China-AS” ucap Shuang sebagaimana dikutip Reuters.

Bagi pemerintah China, tak ada isu luar negeri yang lebih penting baginya, kecuali kebijakan Satu China.

Kebijakan Satu China: semua negara yang ingin melakukan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Tiongkok (pemerintah resmi Tiongkok daratan) harus menghindari hubungan resmi dengan Republik Tiongkok (Taiwan), begitu pula bagi negara yang membentuk hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan harus memutuskan hubungan resmi dengan Republik Rakyat Tiongkok. Kebijakan ini berlaku pula untuk TibetHongkong, dan Macau, yang semuanya diklaim China sebagai provinsinya. 

Harga mati bagi China, Taiwan adalah salah satu bagian dari teritori-nya, lantaran itu, negara lain yang menjadi mitra China harus menghormati kebijakan Satu China.

Persoalan ini bermula ketika Presiden perempuan pertama Taiwan, Tsai Ing-wen, menelepon Trump, dan mengucapkan selamat atas terpilihnya menjadi Presiden AS. China memprotes keras hal itu, karena sejak tahun 1979, tak ada satu kepala negara AS manapun yang melakukan hal tersebut, dalam rangka menghormati Kebijakan Satu China.

Maka itulah, China mendesak Trump untuk memahami sensitivitas dalam persoalan dengan Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsi yang membangkang.

Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menegaskan, negara manapun tak berhak mendiktenya untuk menerima atau tidak sebuah panggilan telephone, termasuk China.

Latihan Militer China: Unjuk Kekuatan Kepada Trump?

“Saya tidak ingin China mendikte saya dan panggilan telepon itu diserahkan kepada saya. Pembicaraannya sangat bagus. Singkat. Dan mengapa ada negara bisa mengatakan bahwa saya tidak bisa menerima panggilan telepon? Sejujurnya saya pikir sangat tidak hormat tidak menerimanya,” ucap Trump.

Terkait hal ini, media China menyebut Trump sebagai miliarder yang sukses, tetapi dalam pemerintahan, ia seorang anak yang Bodoh.

Menarik ditunggu, bagaimana selanjutnya sikap Donald Jhon Trump, Presiden AS ke-45, yang segera dilantik Januari 2017 mendatang. [CT]

 


Lihat juga:

Inilah Video Kekuatan Udara China

 

https://www.satulangkah.com

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | Driven by Heart | 0881 0244 23948 (WA only) | "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (Calvyn Toar - Jan 2016).

Leave a Reply

*