Beri Luis Milla Waktu!

beri luis milla waktu!

Akhirnya, perjuangan Timnas Indonesia U22 besutan Luis Milla berbuah manis juga. Berbuah manis, karena kendati gagal berlaga di partai puncak, usai dikandaskan Timnas Malaysia pada babak Semifinal cabang sepakbola Sea Games 2017, pada Sabtu (26/8/2017) – Sore tadi (29/8/2017), Timnas Garuda Muda mampu mencukur Timnas Myanmar dengan skor meyakinkan 3-1.

Kemenangan Timnas Indonesia U22 atas Myanmar menjadi semacam obat penawar kekecewaan publik tanah air, akibat kekalahan menyesakkan di babak Semifinal ajang ini. Betapa tidak, Garuda Muda bermain apik sepanjang laga. Semua lini hidup. Build up attack from the back berjalan mulus atas komando gelandang kawakan, Evan Dimas. Begitu pula dengan kuatnya barisan pertahanan, kendati minus kehadiran sang kapten, Hansamu Yama. Karenanya, Malaysia dibuat tak berkutik dalam penyerangan, utamanya setelah pertandingan melewati menit ke-15.

Timnas Malaysia hanya mengandalkan umpan panjang ke jantung pertahanan, berharap striker dan winger-nya dapat menimbulkan kekacauan di jantung pertahanan Timnas, guna membuka peluang menciptakan gol.

Melihat cara bermain Malaysia seperti itu, saya teringat dengan gaya bermain Timnas Indonesia di dua edisi Piala AFF terakhir: AFF 2014 & 2016, yang kala itu Timnas diarsiteki oleh Alfred Riedl. Masa itu, Timnas Garuda senior bermain cenderung demikian: Umpan panjang dari sektor tengah yang langsung menyasar striker di jantung pertahanan lawan, atau mencari posisi winger yang berlari mendekati area kotak penalti. Kendati cara bermain demikian tidak bisa dibilang jelek, tetapi umpan-umpan seperti itu gampang terbaca lawan, monoton dan sangat tidak enak sebagai sebuah tontonan.

timnas u22 usai dikalahkan timnas malaysia
timnas u22 usai dikalahkan timnas malaysia (via kumparan.com)

Lain halnya dengan Timnas Indonesia U22 alias Timnas Junior yang kita punya dalam perhelatan Sea Games kali ini. Mereka mulai terbiasa bermain ala Spanyol, khususnya Timnas Spanyol U21 yang pernah dihantar Luis Milla menjuarai Piala Eropa U21 pada 2011 silam.

Sejak resmi menukangi Timnas U22, Januari silam, dan mulai serius berlatih sebulan kemudian, gaya bermain Timnas U22 terlihat mulai seperti “La Furia Roja”, yang dicirikan dengan jarak antar pemain yang cukup berdekatan, tangguhnya lini tengah dalam mengalirkan bola-bola pendek sekaligus mematahkan alur serangan lawan dan ditopang dengan padunya kuartet lini belakang, manuver winger dari dua sisi yang dapat mengirim umpan-umpan matang untuk disambut striker, dan bahkan tusukan para winger dan attack mid fielder yang berkreasi melakukan umpan one-two melalui lini tengah manakala serangan melebar melalui sayap tidak berjalan efektif.

Singkat kata, Timnas Indonesia U22 yang kita punya kali ini mengusung sepakbola menyerang yang kompak dan kaya variasi serangan. Output-nya, sebagai penonton, saya sangat terhibur dengan gaya bermain Timnas kali ini. Bahkan, kendati kalah menyakitkan dari Malaysia di menit ke-86, melalui sundulan Thanabalan Nadarajah, saya tidak kecewa. Tidak kecewa, karena puas dengan apiknya permainan yang diperagakan Timnas U22.

Bisa dibilang, barulah 7 bulan Luis Milla menukangi Timnas U22, namun sudah mampu mematahkan banyak prediksi klasik. Prediksi klasik apa itu? Misalnya, Thailand disebut-sebut selalu merepotkan Timnas Indonesia, nyatanya tidak demikian yang terjadi ketika kedua timnas berduel di laga perdana Grup B Sea Games, Selasa (15/8/2017). Timnas Thailand kesulitan mengembangkan permainan dan menembus lini pertahanan Indonesia. Bahkan, Indonesia memperlihatkan permainan menyerang yang berkali-kali mengancam gawang Thailand. Hasil akhirnya pun imbang 1-1.

Bermain dengan Vietnam (Selasa, 22/8/2017) yang semula disebut-sebut sebagai partai sulit pun dapat dilalui Timnas dengan gagah. Gagah, karena kendati bermain dengan 10 pemain tanpa kreator serangan, Evan Dimas, dan petaka yang terjadi di menit ke-63, yakni ketika gelandang bertahan, Hanif Sjahbandi, mendapatkan kartu merah, Timnas tetap mampu menahan laju serangan Vietnam yang bergelombang hingga peluit akhir dibunyikan.

Kala itu, Vietnam yang menang besar sepanjang 3 pertandingan awal, seolah menemukan tembok penghalang kokoh: Timnas Indonesia U22! Vietnam mati kutu. Dan, lantaran tak mampu mengalahkan Timnas Indonesia itulah, petaka awal tersingkirnya Vietnam dari Grup B.

beri waktu kepada luis milla hingga asian games 2018
(via kompas.com)

Kembali pada hari ini. Sebagaimana disebutkan di atas, sore tadi, Timnas U22 sukses menekuk Timnas Myanmar 3-1. Menariknya, skor akhir pertandingan seolah menjadi balasan terhadap hasil yang diperoleh ketika Timnas berjumpa Myanmar pada laga uji coba di Stadion Pakansari, Cibinong, Selasa (21/3/2017) silam. Lima bulan lalu itu, Timnas Myanmar (tim yang sama seperti pada sore tadi) mempermalukan Timnas U22 dengan skor telak 3-1 di depan publik tanah air, sekaligus membuat malu Milla yang baru sebulan menangani Timnas. Itu memang merupakan debut Milla sejak melatih Timnas.

Kemarin, Pelatih Myanmar U-22, Gerd Zeise, melontarkan pujiannya kepada gaya bermain Timnas Indonesia dan Luis Milla sebagai pelatih. Dikutip dari fourfourtwo.com, Zeise mengatakan:

“Saat itu Luis Milla baru mulai melatih timnya, jadi kita belum benar-benar bisa melihat apa yang akan ia hasilkan. Tapi kita bisa melihat hasilnya sekarang”.

Pelatih asal Jerman itu pun berpendapat, bahwa Timnas Indonesia lebih pantas berada di Final ketimbang berjumpa Timnas Myanmar yang diasuhnya.

Melihat pencapaian itu, tepatlah jika PSSI pun memastikan, posisi Luis Milla tetap sebagai pelatih Timnas Indonesia. Kendati ada evaluasi karena kegagalan mencapai target emas di Sea Games kali ini, kinerja Milla patut diapresiasi dan diberi lagi kesempatan.

luis milla pantas menukangi timnas indonesia pada asian games 2018
luis milla pantas menukangi timnas indonesia pada asian games 2018 (via jawapos.com)

Dalam sepakbola, tidak ada tim instan yang langsung menapaki puncak tertinggi. Lihat contoh Timnas Korea Selatan (Korsel) dalam ajang Piala Dunia 2002. Timnas Korsel mengontrak pelatih papan atas, Guus Hiddink, sejak 1 Januari 2001 hingga 30 Juni 2002. Artinya, Hiddink membutuhkan waktu 1,6 tahun untuk mencipta Timnas Korsel tembus Semifinal Piala Dunia, setelah menumbangkan tim kuat Italia.

Timnas Korsel berhasil mencatatkan diri sebagai tim Asia pertama yang mampu menembus Semifinal Piala Dunia. Kabarnya, sebelum mendapatkan pelatihan teknik sepakbola dari Hiddink, anggota Timnas Korsel harus melalui pelatihan fisik berat ala militer berbulan-bulan lamanya.

Mendapatkan Timnas Indonesia terbaik dan mumpuni untuk berprestasi di level teratas sepakbola dunia, tidak bisa secepat-cepatnya. Itu membutuhkan waktu, pendanaan besar, pelatih yang cakap dan punya visi, serta yang tak kalah pentingnya: Konsistensi!

Jika memang PSSI menilai Luis Milla cakap untuk misi tersebut, maka beri dia waktu, dan biarkan begitu! Kinerja Hiddink atas Timnas Korsel dapat menjadi patokan; Maka, usai meraih Perunggu Sea Games ini, biarkan Milla menukangi Timnas Indonesia hingga Asian Games 2018.

Mampukah Luis Milla meracik Timnas Indonesia lebih mumpuni lagi, dan mencapai target hingga Semifinal? Hasilnya nanti akan lebih fair dan obyektif untuk dinilai siapapun. Kita tunggu.

Maju terus Timnas Indonesia dan coach Luis Milla!

 

 

https://www.satulangkah.com

trader, digital marketer, SEO-SMO expert, content creator, web developer, ghostwriter, political marketing strategy | driven by heart | 0881 0244 23948 (WA only) "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, Anda bisa berubah untuk maju; Anda dapat lakukan apapun yang Anda mau, & menjadi apapun yang Anda ingin jadi" (calvyntoar/jan 2016)

Related posts

Leave a Reply

*