Simon McMenemy, Sudahlah…

simon mcmenemy pelatih timnas indonesia 2019

Timnas Indonesia semakin terjerembab di dasar Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022. Kekalahan demi kekalahan seakan ogah beranjak dari timnas. Betapa tidak, dalam laga ke-4 yang dihelat di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar-Bali (15/10) malam, timnas Merah Putih lagi-lagi harus mengakui kedigdayaan tim lawan. Kali ini, The Golden Dragon timnas Vietnam memukul keras timnas dengan skor telak 3:1.

The Mansion Kemayoran

Kekalahan tersebut adalah yang ke-4 bagi timnas. Setelah sebelumnya, berturut-turut Timnas Garuda dicukur Himalaya Malaya, Malaysia 2:3, pada 5 September 2019 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Lalu, pada 10 September, masih di GBK, Garuda senior kembali dipermalukan The War Elephants Thailand, dengan skor besar 0:3. Dan belum lama, pada Kamis (10/10) malam WIB, bertempat di Stadion Al Maktoum, UEA, timnas Indonesia dicukur The Falcons UEA 0:5 tanpa balas.   

Sebagai penikmat sepakbola nasional, sekaligus pecinta Tim Nasional Indonesia, saya telah kehilangan kata-kata untuk mengomentari rapor merah itu. Tulisan ini pun nyaris tidak jadi, lantaran rasa sesak campur ngenes yang menggelayut di hati yang enggan pegi-pegi. Bahkan, masih menggumpal emosi jiwa di dada hingga injury time (=tengah malam) dalam menyelesaikan artikel ini.

Simon McMenemy Mati Kutu

Itu sebabnya, ketimbang membahas soal kualitas pemain, strategi cara bermain, dan hal-hal tekhnis lainnya, yang bisa jadi panjang diurai, yang ujungnya cuma menambah gumpalan ngenes dan emosi tadi, saya langsung fokus saja pada satu sosok: Simon McMenemy, sang juru taktik timnas 2019. Pelatih berpaspor Skotlandia ini sebetulnya bukan pelatih kacangan, meski juga bukan terlalu jempolan. Namun, menangani tim kebanggaan Indonesia, Mr Simon seperti kehilangan ‘kemampuannya’. Sang arsitek mati kutu. Habis sudah…

(img via kumparan.com)

Gaya bermain Britania Raya yang direct football, yakni menerapkan beberapa sentuhan dengan umpan jauh langsung ke jantung pertahanan lawan, sukses diaplikasikan Simon McMenemy, kala menukangi timnas Filipina, hingga menembus semifinal Piala AFF 2010 silam. Itulah pencapaian tertinggi timnas Filipina.

Usai melatih The Azkals Filipina, Simon McMenemy menginjakkan kaki di Indonesia. Mitra Kukar adalah tim lokal pertama yang mendapatkan jasanya pada 2011-2012. Disusul Pelita Bandung Raya, dan The Guardian Bhayangkara FC. Pada 2017, The Guardian, berhasil menyingkirkan tim-tim besar dan mapan di tanah air, dan dibawanya melaju hingga meraih juara Liga I. Hebat!   

Sederet prestasi lumayan tersebut sempat menghadirkan asa para pendukung timnas, bahwa ditangan pelatih hebat berusia 41 tahun itu, gaya bermain timnas akan menjadi seperti gaya bermain Eropa yang tanpa basa-basi. Efektif dalam sirkulasi bola, dan dapat dengan cepat menusuk compact dari berbagai lini ke jantung pertahanan lawan. Faktanya? Memble.

Indonesia Tidak Kekurangan Stok Pemain Mumpuni!

Padahal, untuk melakukan gaya bermain Britania Raya, Indonesia tidak kekurangan stok pemain yang sesuai. Banyak pemain baru yang mestinya dicoba untuk itu. Tidak melulu memainkan pemain yang itu-itu saja. Dan dalam hal ini, tidak harus pemain yang berstatus senior dan atau yang sudah berpengalaman yang selalu mendapatkan slot. Jadi, ini bukan soal usia pemain. Terlalu muda ataupun terlalu tua. Pemain lokal atau naturalisasi. Tak soal itu! Sepanjang sang pemain memang menunjukkan kualitas bermain yang mumpuni, pilih dan proyeksikan dia ke timnas senior!

Untuk tujuan ke Piala Dunia, menurut saya, tim yang ideal adalah kombinasi antara pemain muda – senior, dan pemain baru – pemain berpengalaman (langganan timnas). Ujung dari kombinasi itu, selain untuk mendapatkan semua pemain terbaik dari Liga bergulir (Liga I & II), pemain kelompok umur U-19 dan U-23 yang memang bagus, mestinya diberikan kesempatan. Dengan demikian, akan tercipta gabungan para pemain bagus dan terbentuknya generasi pemain timnas berikutnya—Federasi tidak usah kaku dalam konteks ini. Beri kesempatan kepada pemain muda berkiprah di timnas senior.

pele dan maradona, proyeksi pemain muda yang mengkilap di piala dunia (via youtube.com)

Model penggabungan level pemain seperti itu sukses dilakukan oleh tim-tim besar dunia, seperti Brasil, Argentina, dan Jerman. Sebutlah sebagai contoh, Pele. Ditarik ke timnas Brasil pada usia 16 tahun, berkat kegemilangannya bermain di liga lokal. Dan pada usia 17 tahun, ia berhasil membawa Selecao, Brasil, juara Piala Dunia 1958.

Apakah Indonesia minor pemain bertalenta dan mumpuni? Tidak!

Bagi anda yang jarang atau tidak sama sekali mengikuti pertandingan Liga I  dan II, serta kiprah timnas muda U-16, U-19 dan U-23 di berbagai ajang, tentu saja tidak bisa menyebut nama sederet pemain bagus yang ada di tanah air. Namun, bagi kita, pecinta sepakbola negeri sendiri, dan yang mengikuti kiprah timnas Garuda Muda, paham sejumlah pemain bagus yang dapat ditarik ke timnas senior.

Daripada memainkan pemain senior yang katanya berpengalaman, tetapi dengan hasil nol besar–bahkan sebelum laga dimulai pun, pendukung sudah memprediksi kekalahan bakal diraih, bukankah lebih baik merombak skuad yang ada, dan memberi kesempatan kepada barisan pemain muda dan wajah-wajah baru. Tentu, sekaligus dengan pelatih baru pula!

pemain timnas indonesia u-19 layak proyeksi ke timnas senior (via tribunnews.com)

Nama-nama seperti: Alexandro Kamuru (U-16), Marselino Ferdinan (U-16), Bagas Kaffa (U-19), Fajar Fathur Rahman (U-19), Alfeandra Dewangga (U-19), Brylian Aldama (U-19), Beckham Putra (U-19), Bagus Kahfi (U-19), Asnawi Mangkualam (U-23), Egy Maulana Vikri (U-23), Muhammad Rafli (U-23), Witan Sulaiman (U-23), dan Todd Rivaldo (U-23), layak diproyeksikan ke timnas senior. Dengan sentuhan pelatih lokal bertalenta dan cerdas, seperti Fakhri Husaini, Indra Sjafri dan atau Rahmad Darmawan, timnas akan menjadi Garuda sesungguhnya!  

Kegagalan 4 kali berturut-turut ini, sudah lebih dari cukup; Ketidakmampuan membentuk, meramu dan meracik strategi tim, sudah jelas terlihat. Mo apa lagi…?  

Mr Simon, sudahlah. Federasi, do something-lah…

Kendati hampir habis asa lolos ke Piala Dunia 2022, setidaknya berikanlah hiburan manis kepada bangsa, utamanya para penggila bola tanah air. Dalam perhelatan tersebut, masih ada 4 pertandingan sisa hingga dengan 4 Juni 2020. Kalaupun tidak menang, bermain baguslah Garuda! Federasi, tolong bantulah wujudkan itu…

Kalah tak mengapa, tapi tunjukkan karakter permainan. Identitas permainan yang mati di tangan Mr Simon, tak boleh ada lagi!

kenangan timnas indonesia piala aff 2010 (via panditfootball.com)

Euforia 2010, Duh…

Terlepas kiprah Luis Milla yang lumayan bagus menangani timnas (2017), aku merindu tipikal bermain timnas di era Riedl, khususnya dalam gelaran Piala AFF 2010. Gesit dan cepat pada kedua flank. Ada Muhammad Ridwan/Arif Suyono di kanan, Okto Maniani di kiri. Ditopang duo Midfielder, Firman Utina dan Ahmad Bustomi yang menjadi motor serangan dan penjaga keseimbangan tim. Para penjaga pertahanan: M. Nasuha, Hamka Hamzah, Maman Abdurahman, Benny Wahyudi, dan kiper plontos Markus Horison. Serta, aksi apik para target man legendaris yang kian mempercantik penampilan timnas: Christian Gonzales, Irfan Bachdim, dan Bambang Pamungkas.

m nasuha, kendati cedera kepala tetap spartan bermain (via today.line.me)

Permainan timnas saat itu sangat kolektif, efektif dan spartan. Kendati kalah pada partai final melawan musuh bebuyutan, Malaysia, permainan timnas era itu sungguh enak ditonton dan membanggakan. Tercipta euforia dan kentalnya cinta terhadap negeri di segala penjuru pertiwi.

Bukan Soal Kalah atau Menang

Kita realistis lah. Untuk tembus dan bermain di pentas Piala Dunia (PD), timnas Indonesia masih membutuhkan waktu, setidaknya 3 kali gelaran PD lagi. Dan, penonton tanah air umumnya maklum akan hal itu kok. Jadi, sekali lagi, bukan soal kalah atau menang yang utama, tetapi permainan timnas yang berkarakter, spartan alias pol daya juang, enak ditonton dan menghibur. Itulah yang dirindu suporter fanatik timnas Indonesia sesungguhnya.

So, Simon McMenemy, sudahlah…

https://www.satulangkah.com

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | Driven by Heart | 0881 0244 23948 (WA only) | "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (Calvyn Toar - Jan 2016).

Leave a Reply

*