8 Perang Dunia Terbesar Sepanjang Sejarah

infoBaswara.com, Jakarta – Sejarah mencatat, setidaknya ada 8 perang besar yang pernah terjadi di dunia. Dari ke-8 perang dengan skala masif dan jumlah korban jiwa yang sangat besar itu, terdapat dua alasan utama pemicunya, yaitu upaya mengalahkan pihak (negara) lain dan nafsu memperluas wilayah teritorial.

Ke-8 perang terbesar sepanjang sejarah umat manusia itu telah mendatangkan penderitaan dan korban jiwa yang luar biasa banyaknya dari semua pihak yang bertikai.

Inilah 8 Perang Dunia Terbesar Sepanjang Sejarah, yang dihimpun oleh infoBaswara.com:

 

1. Perang Salib

Perang Salib (Inggris: Crusade), merupakan perang besar yang terjadi dari tahun 1096 hingga tahun 1487. Berlangsungnya perang ini disahkan oleh beberapa Paus pada masa itu.

Istilah Perang Salib itu pun tak sekadar merujuk pada perang antar-Islam dan Kristen, tetapi istilah itu menjadi umum dipakai pada masa itu sebagai pernyataan perang terhadap segala hal yang bertentangan dengan ‘kebenaran’.

Perang Salib Pertama bermula pada tahun 1095, ketika Kaisar Bizantium Alexius I Komnenus mengirimkan seorang utusan kepada Paus Urbanus II. Ia meminta dukungan militer untuk mengatasi konflik Kekaisaran Romawi Timur dengan bangsa Turk yang melakukan migrasi ke arah barat di Anatolia (Turki masa kini).

Merespon permintaan tersebut, Paus Urbanus II memanggil umat Katolik untuk bergabung. Salah satu tujuan yang dinyatakan oleh Paus Urbanus II adalah merebut Yerusalem atau yang disebut dengan Tanah Suci dari penguasa Kesultanan Turki. Dengan demikian, akan menjamin akses dan keamanan para peziarah ke tempat-tempat suci di Yerusalem dan sekitarnya.

Seruan Paus untuk bergabung dalam ‘perang suci’ ini pun menarik hati ratusan ribu orang dari berbagai negara dan kelas yang berbeda di wilayah Eropa Barat. Tak sedikit para petani yang bergabung dalam pasukan salib – mereka meyakini, sebagaimana yang diklaim oleh Paus Urbanus II, dosa-dosa mereka akan diampuni jika ikut serta dalam perang ini.

the battle crusade war
the battle crusade war (via pinterest.com)

Perang salib melibatkan banyak pihak. Tak hanya melibatkan antara Islam dan Kristen, tetapi juga para penganut lain, seperti Yahudi (Yudaisme), Zoroaster, Baha’i dan penganut agama lainnya di seluruh daratan Eropa, Asia bahkan Afrika.

Perang bermotif perselisihan antar-agama/penganut kepercayaan ini merupakan salah satu perang paling besar dalam sejarah peradaban umat manusia. Secara keseluruhan, perang ini terjadi dari abad ke-9 hingga ke-15 Masehi – yaitu Perang Salib Pertama sampai Perang Salib Kesembilan.

Seperti telah disinggung sebelumnya, Perang Salib tak hanya terjadi antar-Islam dan Kristen, karena pada Perang Salib di abad 13, perang justeru terjadi di Eropa Utara, dimana  Paus Innosensius III mengeluarkan sebuah bulla kepausan yang menyatakan suatu perang salib terhadap etnis Livonia yang pada saat itu kebanyakan menganut paganisme.

Dua tokoh paling populer dalam Perang Salib adalah Salahudin Al Ayyubi (Yusuf bin Najmuddin) dan Richard The Lion Heart (King Richard I).

Panjangnya durasi Perang Salib, mengakibatkan korban jiwa yang tak sedikit. Diyakini, korban jiwa dari keseluruhan perang ini setara dengan jumlah korban jiwa Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

 

2. Invasi Mongol

Temujin atau yang dikenal dengan Jenghis Khan merupakan anak sulung dari Yesugei, ketua suku nomaden Kiyad, di sebuah wilayah kecil di Asia Tengah. Setelah berhasil mempersatukan suku-suku nomaden di gurun Gobi, Mongol, pada tahun 1206, Jenghis Khan mulai menebar ancaman ke wilayah sekitarnya, bahkan jauh menembus Eropa dan Timur Tengah.

Imperium Mongol di Eurasia (Eropa dan Asia) berlangsung dari tahun 1206 hingga 1337, atau lebih dari satu abad.

Kekuatan Mongol masa itu terletak pada kelihaian dan kharisma Jenghis Khan (Khan dari segala-galanya), kesetiaan mutlak para panglimanya, pasukan kavaleri yang cakap, infantri dengan penguasaan meriam tangan yang lihai, kekuatan kuda-kuda Mongol, dan cara penaklukan yang tak biasa.

Kuda-kuda Mongol yang kuat, besar dan terlatih memampukan pasukan Jenghis Khan mencapai wilayah-wilayah yang jauh dari asal mereka sendiri. Uniknya, wilayah yang ditaklukan tidak dikuasai Mongol secara permanen dengan mendirikan pemerintahan. Wilayah yang dikuasai itu akan ditinggalkan begitu saja setelah mereka membunuh siapapun yang dijumpai tanpa pandang bulu, kecuali para wanita yang kebanyakan diperkosa dan dibawa pulang ke negeri asal mereka. Mereka pun menjarah semua harta benda daerah yang mereka taklukan.

Mongol di bawah Jenghis Khan berhasil menguasai China (zaman Dinasti Jin, Xia dan Song), menghancurkan Rusia, mengalahkan kekaisaran Persia (Iran), menduduki Polandia dan Hongaria, dan meluluhlantahkan Baghdad (Irak), yang kala itu sebagai pusat Islam.

Pasukan Mongol pernah sampai ke Mesir dan India, serta sempat terlibat perang dengan Pasukan Salib di Eropa, yaitu ketika Jenghis Khan mengutus dua Jenderal terbaiknya menyelidiki daerah barat. Di tanah Eropa, pasukan kedua jenderal itu terlibat perang dengan pasukan Perang Salib yang hendak menuju Timur Tengah (Yerusalem). Pasukan Perang Salib menyangka pasukan Mongol adalah pasukan Arab.

Pasukan Mongol pun sempat berniat menaklukan Kerajaan Singasari di Jawa, tetapi gagal.

Seratus tahun lebih menebar ketakutan di seantero Eropa dan Asia, akhirnya kekuatan Mongol memudar seiring wafatnya Jenghis Khan. Sistem kepemimpinan yang berpusat hanya kepada satu orang (Jenghis Khan) dengan wilayah taklukan yang teramat luas, itu menjadi satu dari sekian alasan runtuhnya Mongol pada akhirnya.

Hebatnya, kendati  ekspansi Mongol diklaim telah berakhir sebelum pertengahan abad ke-14, ternyata peperangan dan penaklukan masih berlangsung hingga abad ke-15, oleh penguasa-penguasa Mongol yang lebih kecil, yaitu sisa-sisa dari Kerajaan Mongol di berbagai tempat.

kekaisaran mongol menembus eropa dan timur tengah
kekaisaran mongol menembus eropa dan timur tengah (via sites.google.com)

Harus diakui, Kekaisaran Mongolia hampir mendominasi seluruh dunia (global domination). Pada puncak kejayaannya, Imperium Mongol menguasai wilayah sekitar 33 juta km persegi luasnya. Mongol merupakan kekaisaran terkuat di abad pertengahan. Imperium Mongol hanya kalah sedikit dari Imperium Britania Raya (United Kingdom).

Adapun bangsa yang pernah ditaklukan Kerajaan Mongol antara lain: China, Rusia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara.

Satu abad lebih menebar ancaman, di masa kejayaan Mongol, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh, sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun, dan mengurangi 10% jumlah penduduk di Timur Tengah.

Keberhasilan invasi Mongol yang jahat, bengis dan brutal selama satu abad digambarkan sebagai berkuasanya kejahatan terhadap siapapun dan apapun!

 

3. Perang Napoleon Bonaparte

Perang Napoleon terbilang ironi. Ironi, karena pada awalnya niat perang ini untuk menghancurkan monarkhi Perancis bahkan Eropa pada keseluruhannya, untuk diganti dengan sistem pemerintahan republik. Tetapi ketika Napoleon Bonaparte merebut kekuasaan melalui kudeta yang bernama 18 Brumaire, ia pun berkuasa belasan tahun, dan menjadikan dirinya sebagai kaisar.

Kegeniusan Napoleon menata ulang militer Perancis, menjadikan negeri itu ditakuti di daratan Eropa selama beberapa waktu, dan ia memenangkan banyak pertempuran hebat. Di masa jayanya, Napoleon berhasil memperluas kekuasaan Perancis hingga menguasai hampir seluruh wilayah Eropa.

Kapan sebenarnya era Napoleon dimulai? Tidak ada kesepakatan para sejarawan untuk memastikan kapan Perang Revolusi Perancis berakhir dan peperangan era Napoleon dimulai. Beberapa tanggal yang diajukan antara lain:

  • Tanggal 9 November1799, ketika Napoleon merebut kekuasaan di Perancis
  • Tanggal 18 Mei1803, ketika Inggris dan Perancis melanggar gencatan senjata yang mereka sepakati sebelumnya
  • Tanggal 2 Desember1804, ketika Napoleon mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar

Namun, oleh kebanyakan orang sepakat bahwa Perang Napoleon terjadi ketika Napoleon Bonaparte berkuasa atas Perancis dari tahun 1799 hingga 1815. Perang Napoleon dinamakan pula dengan Perang Perancis Raya, atau sebagai babak akhir dari Perang 200 Tahun antara Inggris dan Perancis, yang telah berkecamuk sejak tahun 1689 hingga dengan tahun 1815.

Selain disebut dengan Perang Perancis Raya, perang ini disebut juga dengan Perang Koalisi, karena melibatkan koalisi negara-negara yang terjadi sebanyak tujuh kali (1792-1815). Koalisi negara-negara itu dibentuk untuk memerangi Perancis. Koalisi negara yang bergabung melawan Perancis di bawah Napoleon adalah: Austria, Belanda, Spanyol, Sardinia, Swedia, Portugal, Rusia, dan Prusia.

Kendati koalisi negara di bawah komando Inggris berusaha keroyokan mengalahkan Perancis di bawah pimpinan si genius perang, Napoleon, kebanyakan pertempuran dimenangkan oleh Napoleon Bonaparte.

Tapi akhirnya, Napoleon Bonaparte harus mengakui kekuatan gabungan militer Inggris dan Rusia dalam perang yang sangat terkenal: Pertempuran Waterloo, yaitu di dekat kota Waterloo, sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia. Napoleon ditangkap dan diasingkan ke Pulau Saint Helena (sebelah barat Afrika). Selama 6 tahun di pengasingan, Napoleon akhirnya meninggal pada 5 Mei 1821.

Korban jiwa dalam Pertempuran Waterloo (18 Juni 1815) itu sungguh luar biasa. Diperkirakan sekitar 5 sampai 6 juta korban jiwa melayang, dan jumlah korban luka-luka yang sebagian besar dari pihak sipil, tak terhitung jumlahnya.

 

4. Perang Dunia I

Perang Dunia I (PDI) berlangsung dari 28 Juli 1914 hingga 11 November 1918. Perang ini disebut dengan Perang Dunia atau Perang Besar. Pemicu perang ini, yaitu terbunuhnya Pangeran Austria, Franz Ferdinand. Franz Ferdinand dibunuh oleh anggota kelompok teroris Serbia, Gavrilo Princip di Sarajevo, Serbia. Hal itu membuat Kaisar Austria Kari I marah besar. Ia menuntut pihak Serbia menyerahkan pembunuh pangerannya, tetapi hal itu dihiraukan Serbia yang kala itu begitu percaya diri karena didukung oleh Rusia.

Akibat sikap keras Serbia itu, Austria menyatakan perang terhadap Serbia pada 28 Juli 1914. Beberapa hari kemudian, Jerman menyatakan perang terhadap Rusia (1 Agustus 1914). Selang dua hari setelah Jerman menyatakan perang terhadap Rusia, Perancis pun menyatakan berperang melawan Jerman pada 3 Agustus 1914. Dan, Inggris menyatakan perang terhadap Jerman pada 14 Agustus 1914.

Pernyataan perang sejumlah negara besar di Eropa itu kemudian meluaskan skala perang besar era persenjataan modern.

the british infantry at world war 1
the british infantry at world war 1 (via history.com)

Perang ini melibatkan semua kekuatan besar dunia, yang terbagi menjadi dua aliansi bertentangan, yaitu mulanya Sekutu Tiga Negara besar, terdiri dari Britania Raya, Perancis, dan Rusia – yang kemudian berkembang menjadi Serbia, Jepang, Amerika Serikat (AS), Kanada dan puluhan negara lain, melawan Blok Sentral, yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria, Turki, Bulgaria, dan Italia. Pada tahun 1915, sikap ‘dua wajah’ Italia mulai tampak. Italia akhirnya pecah kongsi dengan Blok Sentral, dan memilih bergabung dengan pihak Sekutu, karena niatnya untuk menguasai Austria. Sikap dua wajah Italia akan kembali terlihat dalam Perang Dunia II.

Mulanya, perang besar ini dimenangkan oleh Blok Sentral sebelum AS memutuskan bergabung dengan pasukan sekutu pada tahun 1917. Mengendurnya kekuatan Jerman di sekitar tahun 1917 hingga 1918, memperlemah kekuatan Blok Sentral, apalagi di saat yang sama, AS justeru semakin gencar mengirimkan personel pasukannya di medan tempur. Kemenangan Sekutu atas Blok Sentral kemudian melahirkan sejumlah perjanjian pasca perang yang sangat memberatkan pihak Blok Sentral. Adapun sejumlah perjanjian itu antara lain:

  • Perjanjian Versailles antara Sekutu dan Jerman (28 Juni 1918)
  • Perjanjian St. Germani antara Sekutu dan Austria (10 November 1919)
  • Perjanjian Neulily antara Sekutu dan Bulgaria (27 November 1919)
  • Perjanjian Trianon antara Sekutu dan Hungaria (4 Juni 1920)
  • Perjanjian Sevres antara Sekutu dan Turki (20 Agustus 1920)

Perang Dunia I ini mencipta sejumlah akibat, yaitu runtuhnya kekuasaan monarkhi absolutisme di Eropa bahkan seluruh dunia, memicu Revolusi Rusia, hancurnya 4 dinasti besar era Perang Salib, yaitu Dinasti Habsburg, Hohenzollern, Ottoman dan Romanov, munculnya depresi ekonomi di tahun 1929 – melahirkan jutaan pengangguran di Eropa, dan timbulnya Perang Dingin antara Rusia dan AS.

Adapun korban jiwa yang tewas dalam PDI mencapai 40 juta orang di seluruh dunia.

 

5. Perang Dunia II

Perang ini disebut-sebut sebagai Perang Dunia terbesar yang pernah terjadi. Terbesar, karena akibat kehancuran yang didatangkannya sangat masif, dan membawa dampak luas dalam kehidupan negara yang bersengketa, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya hingga hari ini.

Perang Dunia II (PDII) terjadi di berbagai belahan dunia, dan berlangsung dari tanggal 1 September 1939 sampai dengan 14 Agustus 1945. Perang ini berkecamuk di tiga benua: Eropa, Asia dan Afrika.

Di benua Eropa, Adolf Hitler muncul sebagai penguasa Jerman. Ia mengangkat harga diri Jerman yang terpuruk pasca PDI. Dengan menempatkan diri sebagai Ras Arya (ras paling unggul dan murni), Hitler mampu memobilisasi Jerman yang kalah menjadi Jerman pemenang, yang menakutkan bagi Eropa bahkan dunia.

Invasi Jerman ke Polandia (1 September 1939) menandai awal pecahnya PDII. Dan dengan dibantu sekutu lamanya, Italia, Jerman kemudian memperluas wilayah pendudukannya sampai ke daratan Rusia. Nah, di sinilah Italia menampilkan sikap pragmatisnya. Jika di PDI Italia mulanya mendukung Jerman di Blok Sentral kemudian membelot ke Sekutu, kini ia berbalik berada di sisi Jerman lagi.

Merespon agresi Jerman atas Polandia, pada 3 September 1939, Inggris dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman. Akibatnya, perang ini pun meluas di daratan Eropa.

Amerika Serikat (AS) akhirnya terlibat pula dalam PDII ini manakala pasukan Kamikaze Jepang secara tiba-tiba menyerang pangkalan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii pada 7 Desember 1941. Menewaskan ribuan tentara AS. AS pun bergabung dengan Inggris dan Perancis memerangi Jepang sekaligus Jerman dan Italia.

adolf hitler pemicu perang dunia ke-2
adolf hitler pemicu perang dunia ke-2 (via history.com)

Pada 22 Juni 1941, Adolf Hitler mengumumkan Operasi Barbarossa yang menandai invasi Jerman ke Uni Soviet. Kekuatan Jerman dalam operasi itu tak tanggung-tanggung! Kurang lebih empat juta pasukan dengan 19 divisi panser, 3.000 unit tank, 2.500 pesawat udara, dan 7 senjata artileri dikerahkan Jerman untuk mengalahkan Uni Soviet. Padahal, pada 1939 Jerman dan Uni Soviet telah menandatangani perjanjian untuk tidak saling menyerang. Uni Soviet yang berada di pihak Sekutu pun mulai menjadi salah satu musuh Jerman yang kuat.

Kekuatan Jepang hancur setelah pesawat pembom AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945). Kehancuran masif kedua kota utama itu memaksa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, dan menandatangani penyerahan dirinya di atas kapal USS Missouri di teluk Tokyo, pada 2 September 1945.

Sedangkan di Eropa, pada tahun 1944, pasukan Sekutu berhasil menumbangkan kekuatan Italia di bawah komando Benito Mussolini, yang memaksanya menyerah pada 1 Mei 1944.

Dan, pada akhir April 1945, Berlin berhasil dikepung oleh Uni Soviet. Melihat kenyataan telah gagal totalnya Jerman mempertahankan hegemoninya, maka pada 1 Mei 1945, Adolf Hitler membunuh dirinya sendiri dan mati bersama Eva Braun, istrinya di dalam sebuah bunker rahasia di Berlin.

Hancurnya Berlin sebagai ibukota Jerman dan kematian Hitler, merupakan akhir dari PDII. Perang dunia yang dahsyat ini memakan korban jiwa sekitar 70 juta jiwa.

Perang Dunia II melahirkan beberapa hal di antaranya: Berdirinya organisasi PBB, munculnya Uni Soviet dan Amerika Serikat sebagai negara superpower, dan Jerman terbagi menjadi Jerman Barat (dikuasai pasukan AS dan Sekutu) dan Jerman Timur (dikuasai Uni Soviet).

 

6. Perang Arab-Israel

Perang Arab-Israel merupakan bagian dari konflik Arab-Israel dalam cakupan yang lebih luas. Perang terbuka menandai munculnya konflik Israel-Palestina terjadi pada tahun 1948. Saat itu, Inggris yang berhasil mengalahkan Kesultanan Ottoman, menyerahkan wilayah Palestina kepada Israel untuk dijadikan negara Israel setelah sebelumnya mereka tercerai berai ke seluruh dunia karena tidak mempunyai tanah untuk didiami, yang dalam bahasa Alkitab, disebut sebagai akibat dari ‘pemberontakan’ Israel kepada Allah.

Mengetahui hal itu, negara-negara sekitar yang mayoritas Islam tentu saja tidak menerima sikap sepihak Inggris dan Israel yang mencaplok Palestina. Negara-negara Arab pun angkat senjata, maka Perang Arab-Israel pecah. Perang ini dimenangkan oleh Israel di bawah komando David Ben Gurion.

David Ben Gurion berhasil menyatukan milisi-milisi Israel menjadikan Angkatan Pertahanan Israel yang sangat kuat. Ben Gurion pun menjadi Perdana Menteri pertama Israel usai perang.

Pada tahun 1967, Perang Israel-Palestina kembali meletus sebagai bentuk ketidaksetujuan negara-negara Arab terhadap hadirnya Israel di sekitar tanah mereka. Perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara Israel menghadapi gabungan 3 negara Arab, yaitu Mesir, Yordania dan Suriah. Ke-3 negara ini dibantu oleh Arab Saudi, Irak, Sudan, Kuwait dan Aljazair.

Perang tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit (kurang dari enam hari), hanya di front Suriah saja perang berlangsung enam hari penuh. Perang Enam Hari itu dimenangkan lagi oleh kekuatan tempur Israel.

Setelah perang di tahun 1967 itu, tidak terjadi lagi perang terbuka hingga saat ini. Hal itu dipertegas dengan Kesepakatan Oslo pada tanggal 13 September 1993, yaitu baik Palestina maupun Israel, sama-sama mengakui kedaulatannya masing-masing.

Kendati begitu, perlawanan terhadap zionisme Israel masih berlangsung hingga saat ini dalam skala kecil, yang dikomandoi oleh faksi Hamas di Palestina. Ketegangan dalam bentuk penolakan warga Palestina terhadap perluasan permukiman Yahudi di tanah Palestina, yang masih terjadi hingga kini.

Konflik Arab-Israel telah menewaskan ratusan ribu orang.

 

7. Perang Korea

Usai Perang Dunia II, muncul dua Blok besar, yaitu Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet). Kedua Blok besar ini memakan korban sebagai konsekuensi kemenangan di PDII. Beberapa negara yang menjadi korban pasca PDII, yaitu:

  • Vietnam, terpecah menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan
  • Jerman, terpecah menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur
  • Korea, terpecah menjadi Korea Selatan dan Korea Utara

Pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni Soviet menyerang Jepang melalui Semenanjung Korea hingga mencapai garis batas 38 derajat LU (Lintang Utara). Serangan Uni Soviet tersebut sebagai janji (perjanjian Yalta 1945) mereka usai mengalahkan Jerman dan Italia di Eropa.

Pertempuran Uni Soviet versus Jepang terjadi selama 6 hari, dan dimenangkan Uni Soviet, karena di saat-saat itu kekuatan Jepang melemah drastis manakala Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh AS. Jepang menyerah pada 14 Agustus 1945.

korean war
korean war (via emaze.com)

Pada saat itu, disepakati pasukan Jepang yang berada di sebelah Selatan garis 38 derajat LS (Lintang Selatan) menyerah kepada AS di bawah pimpinan Letnal Jenderal  John R. Hogde, sedangkan yang berada pada 38 derajat LU menyerah kepada Uni Soviet di bawah komando kolonel Jenderal Ivan M. Christyalov. Nah, inilah yang menjadi dasar pembagian dua Korea, sehingga garis batas 38 derajat LU, kemudian hari menjadi Korea Utara dan 38 derajat LS menjadi Korea selatan.

Perang Korea meletus pada 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang Korea dikenal pula dengan sebutan the Forgotten War, dan the Fatherland Liberation War.

Perang ini dimulai setelah Korea Utara menyerang Korea Selatan dengan melintasi batas dua daerah yang dikenal sebagai paralel ke-38.

Pihak Korea Utara didukung oleh Uni Soviet dan China, sedangkan pihak Korea Selatan didukung oleh PBB dan Amerika Serikat.

Korea Utara memulai perang yang disebutnya sebagai “Perang Pembebasan Tanah Air” dengan melakukan serangan darat dan udara, berkekuatan 231.000 tentara, 274 tank T-34-85, 150 pesawat tempur Yak, 110 pesawat pengebom, 200 artileri, 78 pesawat latihan Yak, dan 35 pesawat mata-mata. Serangan cepat dan tiba-tiba itu membuat Korea Utara mampu menguasai beberapa wilayah di Selatan seperti Kaesŏng, Chuncheon, Uijeongbu, dan Ongjin. Dan dalam tempo tiga hari, ibukota Korea Selatan, Seoul mampu dikuasai.

Kendati begitu, sebenarnya Korea Utara mengalami kesulitan mengangkut perlengkapan perangnya ke arah Selatan. Itu sebabnya, banyak rakyat sipil dipaksa membawa perbekalan melintasi garis paralel ke-38.

Sementara itu, Korea Selatan hanya memiliki tentara berkisar 98.000 (65.000 tentara tempur, 33.000 tentara penyokong). Mereka pun belum siap perang. Kesiapan tempur tentara Korea Selatan sangat rendah. Pada saat itu, Korea Selatan tidak memiliki tank, mempunyai 22 pesawat yang terdiri dari 12 pesawat tipe penghubung dan 10 pesawat latihan AT6.

Kekuatan serangan Korea Utara membuat moral kebanyakan tentara Korea Selatan jatuh, sehingga menjadi tidak loyal terhadap Presiden Syngman Rhee. Banyak di antara tentara Korea Selatan yang melarikan diri ke arah Utara dan bergabung dengan tentara Korea Utara.

Saat itu, tidak ada pasukan asing yang berpangkalan di Korea Selatan. Pasukan AS yang terdekat berada di pangkalan AS di Jepang.

Melihat posisi Korea Selatan yang semakin terpuruk, Presiden AS kala itu, Harry S Truman memerintahkan angkatan laut AS di bawah komando Jenderal Douglas MacArthur untuk membantu Korea Selatan dan menghambat gerak maju pasukan Korea Utara. Keputusan Truman didukung oleh PBB, yang meminta semua anggotanya untuk membantu perjuangan Korea Selatan dalam memerangi agresi komunis.

Dukungan AS dan negara anggota PBB, membuat Uni Soviet dan China semakin dalam membantu Korea Utara dalam konflik ini. Konflik dua Korea ini menjadi konflik pertama era Perang Dingin antara kubu Uni Soviet (kini Rusia) dan Amerika Serikat.

Didukung oleh PBB, mereka menyerukan semua anggota untuk mendukung perjuangan Korea Selatan. Hal ini tentu saja membuat negara komunis seperti Soviet dan China semakin dalam terlibat.

Perang dua Korea ini berakhir pada 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok (China), dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata alias perjanjian damai tidak resmi. Tidak resmi, karena Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menolak menandatangani genjatan senjata itu,  namun ia berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Dengan demikian, sebenarnya perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.

Itu sebabnya, meskipun Perang Korea telah berlalu puluhan tahun silam, situasi kedua negara masih diliputi ketegangan. Apalagi, pihak Korea Utara selalu melakukan provokasi dan ancaman serangan ke pihak Korea Selatan yang sampai hari ini masih didukung oleh AS.

Korea Selatan dan AS menandatangani pakta pertahanan bersama pada tanggal 8 Agustus 1953, di Seoul oleh John Foster Dolies (Menlu AS) dan Syngman Rhee (Presiden Republik Korea Selatan). Perjanjian tersebut memberikan jaminan perlindungan AS kepada Korea Selatan jika diserang oleh pihak lain.

Semasa Perang Korea, korban jiwa mencapai hampir tiga juta orang tewas. Jumlah itu sangat besar untuk ukuran perang yang hanya berlangsung tiga tahun itu.

 

8.Perang Iran-Irak

Perang Iran-Irak berawal dari konflik perbatasan antar kedua negara tetangga yang berlarut-larut. Perang kedua negara di Timur Tengah ini pecah pada 22 September 1980 hingga 20 Agustus 1988. Inilah perang terpanjang pada abad ke-20 – jika dibandingkan Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945).

Perang Iran-Irak dikenal pula sebagai perang Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak. Selain itu, perang ini dikenal pula sebagai Perang Teluk Persia. Pada tahun 1990-an ketika Irak menginvasi Kuwait, konflik itu disebut sebagai Perang Teluk Persia Pertama.

Kendati perang ini berlangsung dari tahun 1980-1988, akar masalahnya telah ada berabad-abad silam, yaitu permusuhan lama yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia (di lembah sungai Tigris-Eufrat, kini Irak modern) dengan kerajaan Persia  (Iran modern).

Selain persoalan perselisihan batas historis dan teritorial, Perang Iran-Irak pecah ketika pasukan Irak menerobos perbatasan Iran pada 22 September 1980, sebagai ekspresi kekhawatiran Saddam Hussein atas kebangkitan Syiah yang dibawa oleh Imam Khomeini dalam Revolusi Iran. Pada saat itu, Irak tidak mengeluarkan pernyataan perang resmi atas Iran. Namun, peperangan berlangsung selama 8 tahun, meskipun PBB mengupayakan gencatan senjata keduanya.

Meskipun berada dalam era modern, perang ini mengadopsi strategi Perang Dunia I, yaitu adanya pembuatan banyak parit yang berfungsi sebagai lubang pertahanan, banyak pos pertahanan senapan mesin dibangun, pembuatan pertahanan kawat berduri, serangan terbuka dengan bayonet, serangan darat secara bergelombang, dan penggunaan senjata kimia (gas mustard) oleh tentara Irak yang bukan saja menyasar tentara Iran tetapi juga penduduk sipilnya – cara yang sama yang dipakai Irak ketika membasmi suku Kurdi di utara Irak. Menyadari itu, dalam pertempuran darat, semua tentara Iran menggunakan masker gas.

Kekuatan tempur Iran dan Irak tak jauh berbeda, kecuali pada jumlah pasukan yang cukup mencolok. Iran memiliki 305.000 prajurit, 500.000 gabungan Pasdaran (semacam pasukan khusus Pengawal Revolusi) dan milisi, 900 tank, 1000 kendaraan berat, 3000 artileri, 470 pesawat dan 750 helikopter.

Sedangkan Irak, hanya mempunyai 190.000 tentara, 5000 tank, 4000 kendaraan berat, 7330 artileri, 500an pesawat dan 100an helikopter.

Perang ini disepakati berhenti pada 20 Agustus 1988, dan kedua negara kembali kepada posisi batas sebelum terjadinya perang.

saddam hussein v ayatollah ruhollah khomeini
saddam hussein v ayatollah ruhollah khomeini (via sanggarsejarah.blogspot.co.id)

Korban jiwa yang tewas dalam perang ini mencapai satu juta orang (tentara serta warga sipil Irak dan Iran), dan lebih dari sejuta korban yang terluka dari kedua belah pihak.

Dari sekian banyak korban, penderitaan dan kerugian akibat perang ini, setidaknya terdapat keuntungan, yaitu tidak meluasnya perang ini di seluruh wilayah Timur Tengah.

Itulah 8 Perang Dunia Terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia – ada yang bermula dari alasan mencaplok sebuah wilayah yang diklaim sebagai ‘tempat suci’, dan atas nama sebuah keyakinan, perang pun meletus. Ada pula yang berawal dari nafsu melebarkan wilayah kekuasaan dan lalu membasmi dengan brutal siapapun yang menghalangi. Ada juga yang tercipta akibat pembunuhan seorang terhormat yang akhirnya bereskalasi sangat masif, dan ada pula yang tercipta lantaran dendam perseteruan berabad silam.

Apapun alasan pemicu perang terlaksana, tidak pernah ada perang yang membawa kebaikan sejati dan lestari. Yang ada (bisa jadi), dendam berkepanjangan yang dapat meletupkan pembalasan perang di masa depan.

Jadi, apakah dunia ini akan menuju kehidupan penuh perdamaian sejati di masa depan? Tidak akan! Suatu saat, perang dunia yang lebih besar (Perang Dunia III) dari ke-8 perang di atas, akan meletus juga, dengan atau tanpa alasan logis, dengan alasan besar dan atau alasan sepele sekalipun, dan dengan dimulai oleh satu negara bahkan satu orang! [CT]

 

 

https://www.satulangkah.com

Digital Marketer, SEO-SMO Expert, Content Creator, Web Developer, Ghostwriter, Political Marketing Strategy, Trader | Driven by Heart | 0881 0244 23948 (WA only) | "Sepanjang masih hidup & kuatnya ikhtiar, anda bisa berubah untuk maju; anda dapat lakukan apapun yang anda mau, & menjadi apapun yang anda ingin jadi" (Calvyn Toar - Jan 2016).

Leave a Reply

*