23 Fakta Menarik tentang Carstensz Pyramid

mencapai carstensz pyramid papua

Carstensz Pyramid atau Puncak Jayawijaya merupakan salah satu dari 7 gunung tertinggi (seven summit) di dunia. Carstensz Pyramid terletak di Papua Barat, Indonesia, dengan ketinggian mencapai 4.884 mdpl, pada titik koordinat S 04°04.733 dan E 137°09.572. Carstensz Pyramid Papua, yang sering disebut dengan Carstensz saja, mewakili puncak tertinggi di lempeng benua Australia-Oceania.

Ke-6 gunung lain yang termasuk dalam seven summit, yang mewakili 6 kawasan benua adalah: Gunung Everest, Asia (8.848 mdpl); Kilimanjaro, Afrika (5.885 mdpl); Elbrus, Eropa (5.642 mdpl); Aconcagua, Amerika Selatan (6.962 mpdl); McKinley (Denali), Amerika Utara (6.670 mdpl), dan Vinson Massif, Antartika (5.535 mdpl).

Ketujuh gunung di 7 puncak dunia itu memiliki keunikan dan fakta menarik masing-masing.

Inilah 23 Fakta Menarik Tentang Carstensz Pyramid di Papua, yang dihimpun InfoBaswara dari berbagai sumber:

 

1. Nama Puncak Carstensz Berasal dari Nama Orang Belanda

Nama Carstensz Pyramid terambil dari nama seorang petualang Belanda, Jan Carstenszoon. Pada 1623, ketika sedang berlayar di laut Papua, dalam cuaca cerah, ia melihat gletser yang menutupi puncak Carstensz. Setiba di Eropa, ia menceritakan hal tersebut, namun apa yang disampaikannya itu kemudian menjadi bahan tertawaan, karena orang tidak percaya ada salju di daerah Katulistiwa yang tropis seperti Indonesia. Sedangkan kata Pyramide berarti “puncak”.

300 tahun kemudian, tertawaan itu pun berganti ketakjuban, karena seorang penjelajah asal Belanda akhirnya memastikan, bahwa memang ada salju abadi di Puncak Jayawijaya.

 

2. Carstensz Pyramid Memiliki Banyak Nama Alias

Dari ke-7 puncak tertinggi di dunia tersebut, hanya Carstensz Pyramid Papua yang memiliki nama alias paling banyak. Selain disebut dengan Carstensz Pyramid, gunung ini disebut pula dengan 6 nama lain, yaitu: Puncak Soekarno, Puncak Jayawijaya (nama yang diberikan oleh Presiden Soekarno, setelah Papua dibebaskan dari Belanda), Nemangkawi, Ngga Pulu (“Ngga” berarti gunung), Puncak Jayadikesuma, dan Ndugundugu.

 

3. Posisi Carstensz Masih Diperdebatkan

7 summits termasuk carstensz pyramid papua copy
7 summits termasuk carstensz pyramid papua copy (by pathtoeverest.com)

Posisi Carstensz Pyramid Papua sebagai salah satu seven summit masih diperdebatkan di kalangan pendaki profesional dunia. Sebagian kalangan menganggap Carstensz tidak tepat mewakili salah satu lempeng tertinggi di benua, karena berada di Indonesia, Asia. Dimana, Everest yang berada di Nepal, juga berada di Asia. Maka itu, mereka lebih memilih gunung Kosciusko (2228 mdpl) di Australia, sebagai titik tertinggi di benua Australia. Pencetus dari kalangan ini adalah seorang pendaki bernama Dick Bass.

Sedangkan, sebagian besar pendaki, memilih Carstensz sebagai bagian dari seven summit, karena secara geografis terletak di wilayah Australia dan Oceania. Adalah Reinhold Messner, seorang pendaki gunung profesional berkebangsaan Italia yang pertama kali mempopulerkan Carstensz sebagai salah satu dari seven summit dunia. Messner, dikenal sebagai orang pertama yang mencapai Gunung Everest sendirian (solo) tanpa suplemen oksigen pada tahun 1980.

 

4. Carstensz Pyramid Papua Berasal dari Dasar Laut

Jika cuaca cerah dan beruntung, pendaki akan menemukan ribuan fosil ikan dan klastik pada batuan gamping (limestone). Itulah bukti kuat, bahwa dulunya Pulau Papua beserta pegunungannya adalah bagian dari dasar laut, yang oleh tumbukan lempeng benua sekitar 60 juta tahun silam, menjadi menjorok ke atas; Mengendap lama, dan akhirnya membentuk daratan dan pegunungan yang sekarang ada.

 

5. Carstensz Pyramid Tidak akan Pernah Meletus!

Ya! Carstensz Pyramid memang tidak akan pernah meletus, karena semua gunung yang berada di gugusan pegunungan Papua (kecuali Papua Nugini) merupakan gunung yang tidak mempunyai lubang kepundan, yakni tempat keluarnya magma atau gas.

Semua gunung di Papua merupakan batuan keras yang terbentuk setidaknya dalam kurun waktu 60 juta tahun lalu. Hasil endapan (sedimentation) benua Australia dan pertemuan/tumbukkan antara lempeng Asia (Sunda Shelf) dan lempeng Australia (Sahul Shelf), serta lempeng Pasifik, sehingga mengangkat endapan tersebut dari dasar laut Pasifik yang paling dalam ke atas permukaan laut, dan menjadi sebuah daratan baru dan gugusan pegunungan.

 

6. Di Puncak Carstensz Tidak Ada Salju!

Betul! Di Puncak Carstensz memang tidak ada salju atau gletser. Padang gletser hanya dapat ditemukan di Puncak Jaya, Puncak Sumantri dan Puncak Carstensz Timur. Itulah 3 puncak di pegunungan Jayawijaya yang masih terdapat es, yang oleh banyak peneliti dunia, diperkirakan akan meleleh habis kurang dari 10 tahun ke depan.

 

7. Carstensz Pyramid Dekat Tambang Emas Terbesar

Letak Puncak Jayawijaya tak jauh dari lokasi tambang yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, yakni hanya berjarak sekitar 4 kilometer ke Grasberg Mine, tambang emas terbesar di dunia, dan tambang tembaga terbesar ke-3 di dunia.

SIMAK PULA – 3 dari 8 Gunung di Papua Masih Tertupi Salju Abadi

 

8. Puncak Jaya Termasuk Area Taman Nasional Lorentz

Nama Taman Nasional ini diambil dari seorang Penjelajah asal Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz,yang melewati daerah ini pada tahun 1909, yang merupakan ekspedisinya yang ke-10 di Taman Nasional ini.

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 2,4 juta Ha; Lorentz merupakan taman nasional terbesar di Asia Tenggara.

Taman ini masih belum dipetakan, dijelajahi dan banyak terdapat tanaman asli, hewan dan budaya. Pada 1999 taman nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

 

9. Dua Akses Menuju Trek Pendakian

jalur es menuju puncak carstensz pyramid papua
jalur es menuju puncak carstensz pyramid papua (by atmos.umd.edu)

Jakarta-Nabire-Sugapa

Untuk mencapai Carstensz, dari Jakarta misalnya, para pendaki biasanya akan langsung menuju Nabire, Papua. Perjalanan udara ini memakan waktu selama 6 jam. Setiba di Nabire, melanjutkan perjalanan lagi menggunakan pesawat kecil ke Sugapa, Kabupaten Intan Jaya. Setelah itu, barulah trekking via Sugapa-Ugimba, untuk mencapai basecamp Lembah Danau-Danau.

Jakarta-Timika-Tembagapura-Bali Dam

Akses ke-2, jika mendapatkan izin (sangat sulit mendapatkannya), dapat melalui kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Maka, dari Jakarta, pesawat akan mendarat di Bandara Mozes Kilangin, Timika. Selanjutnya, menuju Tembagapura. Melintasi kawasan pertambangan yang terbesar di dunia ini, tim pendakian akan melalui 3 pos pemeriksaan yang super ketat. Setiba di Tembagapura, tim biasanya beristirahat beberapa hari agar tubuh dapat beradaptasi dengan ketinggian 4.000 mdpl. Jika beruntung mendapatkan izin via jalur ini, biaya yang dikeluarkan pun dapat berkurang separuh.

 

10. Bali, Transit Favorit Menuju Carstensz Pyramid

Sekarang ini, banyak operator tur pendakian Carstensz (utamanya dari luar negeri), menggunakan Bali sebagai tempat transit. Biasanya, 2 hari di Bali, lalu terbang ke Nabire. Biaya yang harus dikeluarkan pendaki asing jika via Bali, menjadi sangat besar, dapat mencapai 200 juta per orang.

 

11. Skill Level Mencapai Carstensz: Intermediate dan Advanced

Carstensz Pyramid Papua bukan untuk pendaki pemula! Butuh persiapan (latihan fisik dan medan) selama minimal 4 bulan, agar maksimal mencapai Carstensz. Sebagian pendaki profesional yang telah mendaki seven summit mengakui, bahwa medan ke puncak Carstensz jauh lebih berat dari gunung Kosciusko-Australia, Aconcagua-Amerika Selatan, dan bahkan Everest-Nepal. Alasannya, dari tujuh puncak dunia, hanya Carstensz yang perlu kemampuan teknik memanjat (rock climbing) saat hendak mencapai puncaknya (summit attack).

medan berat melintasi sungai menuju basecamp lembah danau-danau
medan berat melintasi sungai menuju basecamp lembah danau-danau (by mountainmadness.com)

Sebelum itu, mental pendaki akan diuji melintasi jalur yang berat (jalur Sugapa-Ugimba) di hari-hari pertama, yakni melewati sungai (menyeberanginya, dan berjalan di akar-akar pohon yang licin), dan kadang di bekas longsoran tanah, serta hujan yang (hampir) menyertai di sepanjang hari. Lalu, pendaki akan tiba di basecamp Lembah Danau-Danau. Di sini pun pendaki tak dijamin dapat beristirahat nyaman, karena potensi hujan (air, salju dan es), suhu dingin yang terasa menusuk tulang, serta adanya badai salju yang kerap menyapu kawasan basecamp.

Basecamp terakhir di Lembah Danau-Danau ini tak jarang menghentikan langkah para pendaki. Betapa tidak, basecamp ini berada pada ketinggian 4.200 mdpl, dengan suhu mencapai 1 derajat Celcius bahkan kadang di bawah itu. Selain hiportemia, Acute Mountain Sickness (AMS), sering dialami para pendaki di titik ini.

Di basecamp, biasanya pendaki akan berkemah selama setidaknya 2 hari bahkan lebih untuk proses aklimatisasi. Hari berikutnya, trekking melintasi Lembah Kuning (yang sudah tidak kuning lagi), lalu mulai pendakian ke puncak (summit attack). Kadang ascending (menaiki) dan lalu descending (menuruni) tebing – itu memanjat 80 derajat tegak lurus, hingga melewati beberapa jurang menganga di bawah. Keadaan akan semakin sulit manakala hujan salju atau es terjadi menjelang Puncak Carstensz Pyramid.

 

12. Pendakian ‘Paling Sulit’ di Dunia dalam Cakupan Luas

Bukan sekadar medan yang sulit yang mesti dilalui, pendakian ke Carstensz, dipersulit lagi dengan tidak mudahnya mendapatkan izin; Pendaki asing harus mengurus izinnya di Jakarta. Minimnya homestay layak, operator paket tur berasal dari Jakarta, Manado, New Zealand bahkan Colorado AS (jika operator berasal dari Papua sendiri, bisa jadi biaya lebih murah untuk pendaki lokal), SDM Lokal (porter khususnya) yang belum teredukasi maksimal, jalur Tembagapura (Freeport) yang tidak dapat dilintasi pendaki, dan belum adanya regulasi dari pemerintah perihal “wisata minat khusus” yang jelas dan dipatuhi bersama oleh semua pihak terkait. Termasuk dalam hal ini, yang paling krusial adalah flat-nya biaya-biaya yang harus dikeluarkan para pendaki.

Adanya regulasi yang jelas dan dipatuhi bersama akan pasti berdampak dengan bertambahnya jumlah ekspedisi asing dan pendaki Indonesia menuju Carstensz.

 

13. Ke Puncak Carstensz Harus Menggunakan Operator Pendakian!

Menuju ke Puncak Carstensz Pyramid tidak seperti mendaki Gunung Gede yang bisa dilakukan solo tanpa dukungan tim. Mendaki Puncak Jayawijaya harus menggunakan operator pendakian. Ini sebuah keharusan! Alasannya, alam rimba Papua belum familiar oleh para pendaki, medan trekking yang sangat berat, cuaca yang dengan cepat berubah ekstrim, keterbatasan jaringan komunikasi, dan adanya suku-suku asli yang belum terbiasa dengan orang asing.

Operator pendakian akan memandu melintasi trek yang benar dan menjamin kenyamanan pendakian. Adanya dukungan tim berupa instruktur dan porter (dari penduduk lokal), akan memotivasi sekaligus meringankan proses pendakian.

 

14. Butuh Waktu Minimal 2 Minggu untuk Mencapai Puncak Carstensz

Pergi dan Pulang dari pendakian Carstensz Pyramid Papua umumnya mencapai 12 hari atau bahkan bisa lebih dari itu. Para pendaki profesional, biasanya melakukan persiapan mental dan latihan di tempatnya masing-masing selama berbulan-bulan, bahkan setahun agar dapat mencapai Carstensz. Dan, kebanyakan dari mereka melakukan adaptasi medan dan suhu (aklimatisasi ketinggian) di Papua selama beberapa waktu (lebih lama lebih bagus), barulah kemudian mendaki Carstensz.

 

15. Vitalnya Aklimatisasi di Carstensz

Dalam rangka aklimatisasi, para pendaki biasanya berkemah di basecamp Lembah Danau-Danau, setidaknya selama 2 hari. Dalam rangka aklimatisasi juga, para pendaki kadang melakukan pendakian menyusuri jalur es puncak Nggapulu atau puncak Soekarno (puncak Jayawijaya) di ketinggian sekitar 4.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), dalam kondisi melintasi gletser. Lalu kembali berkemah di Lembah Danau-Danau atau bisa pula di Lembah Kuning. Di Lembah Kuning-lah, tempat terakhir untuk mengambil air.

basecamp di lembah danau danau di ketinggian 4250 mdpl
basecamp di lembah danau danau di ketinggian 4250 mdpl – kerapkali terjadi badai salju di sini (by travel.kompas.com)

Jika gagal beraklimatisasi, dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat, pendaki akan mengalami Acute Mountain Sickness, yang dapat berakibat fatal bahkan berakhir dengan kematian, jika tidak segera dievakuasi ke daerah yang jauh lebih rendah.

 

16. Padang Gletser di Puncak Jaya Berhasil Didaki Pada 1909

Pendaki Belanda bernama Hendrikus Albertus Lorentz, merupakan orang pertama yang mencapai padang salju (gletser) di kawasan Puncak Jaya untuk pertama kali pada tahun 1909. Ia dibantu oleh 6 orang dari Suku Kenyah yang direkrutnya dari Apau Kayan, Kalimantan Utara.

 

17. Orang Pertama Menapaki Carstensz

Orang pertama yang berhasil menapak di Puncak Carstensz pada pada tanggal 13 Februari 1962, adalah Heinrich Harrer, seorang pendaki asal Austria. Pendaki hebat ini dikenal dunia ketika kisah petualangannya di Tibet, diangkat ke layar lebar dengan judul: 7 Years in Tibet, dengan pemeran utama, Brad Pitt. Nama Puncak Jaya dan kehidupan Suku Dani pun tersebar luas ketika Harrer mempublikasikan kisah pendakiannya itu dalam buku best seller berjudul: I Come from The Stone Age, pada tanggal 1 Januari 1963.

 

18. Orang Indonesia Pertama Mencapai Carstensz

Letnan Kolonel Azwar Hamid dari Direktorat Topografi Angkatan Darat mencapai Puncak Carstensz pada 1964.

 

19. Tiga Jenis Hujan Sekaligus

Meski secara fisik sangat menguras tenaga dan mental, adalah beruntung jika mendapatkan cuaca super ekstrim di Carstensz Pyramid, yakni diguyur 3 hujan sekaligus: hujan air, hujan salju dan hujan es.

 

20. View Carstensz yang Memukau

Jika berada di Puncak Carstensz dalam cuaca cerah, pendaki dapat melihat view Laut Arafuru, dataran tinggi Zenggilorong, Gresberg, Idenburg, Tembagapura dan Timika. Dan segera Anda menjadi orang tertinggi di lempeng benua Australia-Oceania!

 

21. Setahun, Minimal 300 Pendaki Asing Menuju Carstensz

20 menit sebelum mencapai puncak carstensz pyramid
20 menit sebelum mencapai puncak carstensz pyramid (by peakery.com)

Diperkirakan, setidaknya dalam setahun, ada 300 pendaki asing yang mencoba mencapai Carstensz Pyramid. Dan jika jalur Tembagapura resmi dibuka atas loby pemerintah, diperkirakan jumlah tersebut dapat mencapai 1000 pendaki setiap tahunnya.

 

22. Carstensz Pyramid Pendakian Termahal di Dunia!

Setelah Everest, pendakian ke Carstensz Pyramid merupakan salah satu pendakian termahal di dunia. Artikel tentang Carstensz yang dipublish oleh nationalgeographic.co.id, edisi Januari 2015, masih memberikan angka 1.800 US Dollar (=18 juta, dengan kurs Rp 10.000/dollar) per orang, jika hendak mendaki Carstensz. Saat ini, ada operator lokal, khusus untuk paket pendakian Carstensz yang mematok harga 55-75 juta per orang. Tidak termasuk peralatan pendakian. Angka tersebut masih jauh lebih murah jika dibandingkan dengan beberapa operator asing yang memasang harga hingga 20 ribu US Dollar di website-nya, untuk mencapai puncak Carstensz Pyramid.

Biaya bertambah mahal jika transit via Bali. Dan, akan semakin membengkak lagi biaya itu jika menggunakan helikopter (masuk & keluar), baik membawa logistik ataupun orang, langsung menuju ke Lembah Danau-Danau.

 

23. Puncak Es Carstensz Hilang 2020

Selain di Benua Antartika, hampir 5% cadangan es di dunia berada di Puncak Jayawijaya. Dikuatirkan salju abadi itu akan menghilang dari Puncak Jayawijaya, sebagaimana yang terjadi di gunung Kilimanjaro, Tanzania.

Ekspedisi yang dipimpin oleh paleoklimatologi, Lonnie Thompson, pada tahun 2010 menemukan bahwa gletser Carstensz menghilang pada tingkat ketebalan 7 meter per tahunnya.

Sedangkan data BMKG terbaru menunjukkan, pengaruh El Nino yang kuat dalam kurun waktu 2015-2016, menyebabkan tebal es berkurang 4,26 m hanya dalam tempo 6 bulan. Berangkat dari data ini, BMKG mengkuatirkan Es di Pegunungan Jayawijaya akan meleleh pada 2020.

 

Semoga kenyataan es meleleh tersebut tidak menjadi kenyataan sampai kapan pun di Carstensz Pyramid Papua. Sebab, kadang alam tak dapat diprediksi; Alam mampu memperbahurui dirinya sendiri. Sehingga, Puncak Jayawijaya bersalju abadi itu akan terus menjulang sebagai puncak es satu-satunya di kawasan benua Australia-Oceania.

Dengan perhatian serius pemerintah, Carstensz Pyramid Papua, puncak yang selalu ingin ditaklukkan banyak pendaki dunia ini, akan menjadi magnet bagi para pendaki dunia, sehingga menggeliatkan sektor pariwisata Papua, dan mendatangkan pemasukan ekonomi yang besar untuk kesejahteraan penduduk sekitar. Semoga itu segera terwujud di bawah pemerintahan Joko Widodo, yang terlihat sangat peduli dengan Papua!

 

 

dari berbagai sumber | featured img: ulinulin.com

 

 

Leave a Reply

*